12 Februari 2021

"Ancit Kulikan" bagi madrasah kada sahama-hama lagi.

Ass, wr.wb
Sebagaimana surat dinas pendidikan tentang pemberlakuan  kembali belajar secara daring bagi sekolah tingkat SD dan SMP dimulai pada tgl 13 februari 2021, merujuk pada surat edaran tsb sesuai dengan instruksi gubernur kalsel yg diterbitkan pada tgl 11 kamaren, Kantor Kementerian Agama Kab. HSS memberlakukan bagi MA, MTs, MI Negeri /swasta belajar secara Daring / online mulai tgl 13 sd 22 februari 2021, 
Demikian pemberitahuan ini kami sampaikan atas perhatiannya diucapkn terima kasih
Wassalam ( Kasi Penmad)

Begitu bunyi surat elektronik yg dikeluarkan kasi pedmad kab hss. Sudah dua kali sekolah dibawah naungan Disdik Kab HSS turun untuk PTM sementara untuk madrasah belum sekalipun bisa turun karna tidak singkronya keputusan yg dibuat oleh dua lembaga dibawah naungn pemkab hss.

Banyak harapan yang tersirat yang belum bisa terpenuhi oleh guru untuk memenuhi pembelajaran tatap muka dimasa pandemi ini. Begitu juga hajat orang tua siswa yg sangat berharap agar bisa belajar di madrasah seperti biasa. Sebenarnya menurut pendapat pribadi alangkah baiknya ketegasan pemerentah untuk menjamin kesehatan dan ekonomi tampa pilih kasih itu di wujudkan kearah yg nyata. Apakah mengijinkan pergerakan atau menutup pergerakan dengan jaminan nyata.
Semoga kedepan lebih baik lagi. 

#wajabisa
#madrasahlebihbaik
#madrasahhebatbermartabat

10 Februari 2021

MI Washliyatul Jannah Siap laksanakan PTM


Pembelajaran tatap muka MI Washliyatul Jannah di laksanakan kembali di awal bulan Februari 2021, namun madrasah perlu menerapkan prokes ketat kepada setiap warga madrasah. 

Kunjungan pengawas madrasah( Rabu,10 Februari 2021) bapak Drs.H.Bustami, MM ke madrasah kali ini ingin memastikan kesiapan madrasah terutama di bidang prokes. Sosialisasi 5 M perlu digalakkan agar setiap warga madrasah, lebih khusus kepada pelaksana pendidikan yaitu guru-guru yang mengajar agar bisa menjadi contoh buat siswanya. Misalnya memkai masker, cuci tangan dan lainnya agar di laksakan, tidak salahnya kita berikhtiar. Jika ada siswa yang tidak mematuhi prokes maka akan di beri arahan sehingga mengerti akan bahaya wabah ini.
Selain memastikan prokes, beliau juga menyampaikan jika pembelajaran tatap muka ini adalah hajat dari orang tua sisiwa yang sudah lama. Mereka berharap agar anak mereka di beri pelajaran secara langsung bukan melalui daring. 

Pernyataan ini sejalan dengan keputusan bersama oleh 3 menteri tentang pembelajaran tatap muka. Juga keputusan dari pemkab HSS dan Dinas Pendidikan Kab HSS yg berkoordinasi dengan Kemenag Kab HSS agar bisa menyesuaikan pelaksanaan PTM ini dilapangan.

#wajabisa
#madrasahlebihbaik
#madrasahhebatbermartabat

09 Februari 2021

Bila mau kemadrasah, patuhi 5 M


MI Washliyatul Jannah _Gerakan 5M adalah modal awal yang dibutuhkan agar pandemi COVID-19 bisa cepat berlalu. 

Mari bersama ketahui dan praktikkan 5M pencegahan COVID-19 mulai sekarang.

Di sisi lain, masih banyak orang yang melanggar bahkan belum tahu dengan protokol kesehatan terbaru yaitu gerakan 5M COVID 19.

Kebijakan tersebut dibuat pemerintah guna memerangi virus corona yang tampak semakin ganas dari hari ke hari.

Sebelumnya, pemerintah Indonesia pernah menggalakkan gerakan 3M dan 3T: menjaga jarak, memakai masker, mencuci tangan; dan testing, tracing, treatment, untuk memutus rantai penyebaran virus corona.

Peran pemerintah adalah menggalakkan 3T, sedangkan 3M merupakan peran masyarakat. 

Namun, kebijakan tersebut telah berubah menjadi 5M dan 3T, Terkait istilah 5M, berikut ini penjabarannya:

1. Memakai Masker
Anda diharapkan untuk memakai masker saat berada di luar rumah, atau ketika berkumpul bersama kerabat di mana pun berada.

2. Mencuci Tangan
Anda mesti mencuci tangan menggunakan air mengalir dan sabun secara berkala. Jika tak ada air dan sabun, Anda bisa menggunakan hand sanitizer untuk membersihkan tangan dari kuman-kuman yang menempel.

3. Menjaga Jarak
Jika ada keperluan mendesak yang membuat Anda harus pergi ke luar rumah, ingatlah untuk menjaga jarak satu sama lain. Jarak yang dianjurkan adalah 1 hingga 2 meter dari orang sekitar Anda.

4. Menjauhi Kerumunan
Anda juga diminta untuk menjauhi kerumunan saat berada di luar rumah. Ingat, semakin banyak dan sering Anda bertemu orang, kemungkinan terinfeksi corona bisa semakin tinggi.

5. Mengurangi Mobilitas
Jika tidak ada keperluan yang mendesak, tetaplah berada di rumah. Meski sehat dan tidak ada gejala penyakit, belum tentu Anda pulang ke rumah dengan keadaan yang masih sama.

Selalu ingat, virus corona bisa menyebar dan menginfeksi seseorang dengan cepat.

#wajabisa
#madrasahlebihbaik
#madrasahhebatbermartabat

https://bit.ly/36XCkFL

05 Februari 2021

Ikhtiar di penghujung wabah covid 19


Negara_Terakhir belajar di kelas sekitar bulan Maret 2020, satu bulan lagi berarti sudah 1 tahun wabah ini melanda negeri tercinta ini. Namun banyak hal yang di dapat dari bencana ini. Ada loncatan pengetahuan di era digital ini.

Ada istilah baru yang sebenarnya mungkin sudah lama, namun baru terasa penggunaannya. Seperti kata belajar dari rumah (BDR), dalam jaringan (daring). Luar jaringan(Luring), WFH atau bekerja dari rumah.
Dan masih banyak lagi.

Pembelajaran melalui grup whatapp, goole class, bahkan melalui zoom. Banyak hal yg menjadi hikmah buat kita semua. Ternyata kita sudah hidup di era generasi net.

Semoga wabah ini cepat berlalu dan mari sama-sama kita berdo'a dan beriktiar. Sehingga nanti kita bisa hidup yang normal tanpa di hatui rasa khawatir.

#wajabisa
#madrasahlebihbaik
#madrasahhebatbermartabat

Pengembangan Kualitas SDM Guru MI Washliyatul Jannah


MI Washliyatul Jannah

Salah satu komponen penting dari keberhasilan sebuah madrasah adalah sumberdaya manusia yang kompeten berkualitas, mampu berdaya saing di era digital. Hal ini sejalan dengan yang termuat pada visi misi MI Washliyatul Jannah, sebagai tindak lanjut dari program madrasah tersebut maka di kirimlah guru-guru untuk mengikuti pelatihan dan diklat secara bertahap.

Pelatihan pembelajaran tematik MI bagi guru madrasah Ibtidaiyah yang diselenggrakan oleh kantor kemenag kab hss diawal tahun 2021 merupakan suatu prestasi bagi MI Washliyatul Jannh, karena tahun ini MI Washliyatul Jannah mampu mengirim salah satu guru yaitu ibu  Azizah, S.Pd.I sekaligus pengalokasian  panggilan peserta oleh kemenag ditahun 2021.

MI Washliyatul Jannah akan terus berpartisipasi untuk mengikuti semua program pelatihan dan diklat oleh kemenag maupun lembaga lain sehingga pada nantinya akan terpenuhi guru yang mampu berdaya saing dengan lembaga lain yang mempunyai kreatifitas dan inovasi yang sejalan dengan tujuan madrasah.

#miwajabisa
#madrasahlebihbaik
#madrasahhebatbermartabat

27 Januari 2021

PKKM Lancar tapi perlu pembenahan

Banua Hanyar_Penilaian Kinerja Kepala Madrasah pada MI Washliyatul Jannah ditahun kedua ini berjalan lancar. Banyak dokumen yg perlu diperbaiki agar menjadi benar-benar berkualitas.

Kinerja yang maksimal dalam membuat dokumen kelengkapan PKKM ternyata jauh dari kata lengkap, walaupun sudah hampir dikatakan 70% berkas tersebut mendekati lengkap, namun kami rasa perlu memperbaikinya.

Setiap instrumen yang perlu dilengkapi sesuai aplikasi bukan hanya dokumen yg tak bermakna. Namun dokumen tersebut adalah sebuah cerita yg membuktikan secara autentik tentang keberhasilan madrasah khususnya kepala madrasah. Namun hasil kerja kepala madrasah bukanlah apa-apa tanpa adanya guru-guru yg mau di bina untuk kemajuan madrasah tercinta menuju MI Waja bisa, madrasah lebih baik, madrasah hebat bermartabat.

Drs.H.Birhasani, M.Pd mengatakan bahwa PKKM ini adalah persipaan awal menuju akreditasi madrasah, jadi kesiapan kepala madrasah sangat perlu, karena dokumen tersebut nantinya akan di bawa untuk kemajuan madrasah. Bersama bapak Drs.H.Bustami, MM duduk bersama mrmbenahi kekurangan dokumen adalah hal yang biasa dan sudah terbiasa. Beliau selalu sabar memberikan arahan dan binaan kepada kami di madrasah.

Kami mengucapkan banyak terima kasih buat bapak penilai PKKM ditahun kedua ini. Banyak hal yg kami dapat. Dan juga kami memohon maaf jika pada saat pelaksanaan PKKM tersebut ada kesalahan yg tak kami sengaja. 

#wajabisa
#wajalebihbaik
#madrasahlebihbaik
#madrasahhebatbermartabat

22 Januari 2021

Anak-anak yang mati rasa


Kelak akan tiba masanya, seperti yang dikabarkan oleh Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam, orangtua berpayah-payah mendidik anak, tetapi anaknya memperlakukan emaknya seperti tuan memperlakukan budaknya. Dan aku takut peristiwa itu akan terjadi di masa ini, masa ketika anak-anak tak mengenal pekerjaan rumah-tangga, dan pesantren maupun sekolah-sekolah berasrama lainnya tak lagi menjadi tempat bagi anak untuk belajar tentang kehidupan. 

Anak-anak itu belajar, tetapi hanya mengisi otaknya dari pengetahuan yang dapat diperoleh dari text book dan google. Sementara tangannya bersih tak pernah mencuci maupun melakukan pekerjaan-pekerjaan fisik lainnya, sehingga empati itu mati sebelum berkembang. Tak tergerak hatinya bahkan di saat melihat emaknya kesulitan bernafas seumpama orang hampir mati disebabkan ketuaan atau sakitnya kambuh, tetapi anak tak bergeming membantunya. Apalagi berupaya melakukan yang lebih dari itu.

Aku termangu mengingat nasehat Rasulullah Muhammad shallaLlahu ‘alaihi wa sallam mengenai tanda-tanda hari kiamat, salah satunya dari hadis panjang yang kali ini kita nukil ringkasnya:
.
سَأُخْبِرُكَ عَنْ أَشْرَاطِهَا: إِذَا وَلَدَتِ الْمَرْأَةُ رَبَّتَهَا
.
_Aku akan memberitahukan kepadamu tanda-tandanya; jika seorang (sahaya) wanita melahirkan tuannya.” (Muttafaqun ‘Alaih)_
.
.
Ibunya bukanlah seorang budak. Bukan. Ibunya orang merdeka. Tetapi anak-anak itu tak tersentuh hatinya untuk cepat tanggap membantu ibunya. Padahal membantu saat diminta adalah takaran minimal bakti kepada orangtua. Takaran di atas itu, tanpa diminta pun ia sudah tergerak membantu. Dan di atasnya lagi masih bertingkat-tingkat kebaikan maupun kepekaan seorang anak tentang kebaikan apa yang sepatutnya ia perbuat terhadap kedua orangtuanya.

Ada yang perlu kita renungi. Ada airmata yang perlu mengalir, menadahkan tangan mendo’akan anak-anak dan keturunan kita, menangisi dosa-dosa, berusaha memperbaiki diri dan tetap tidak meninggalkan nasehat bagi anak kita karena ini adalah haknya. Nasehat. Ia adalah kewajiban kita untuk memberikannya meskipun mereka tak memintanya. Kitalah yang harus tahu kapan saat tepat memberikan nasehat sebab semakin memerlukan nasehat, justru kerapkali semakin merasa tak memerlukan nasehat.

Hari ini, betapa banyak anak yang di sekolah berasrama tak diajari mengurusi kehidupan pribadinya karena makanan siap saji setiap waktu makan, hanya perlu berbaris untuk mengambilnya. Sedangkan pakaian pun tak perlu ia menyempatkan waktu mengatur jadwal agar bersih saat mau digunakan, karena sudah ada laundry, sementara tugas sekolah tetap tertunaikan. Tidak terbengkalai. Maka di saat mereka pulang, kita perlu melatih tangan dan juga hatinya agar tanggap. Bukan menyerahkan begitu saja kepada pembantu. Tampaknya ini hanya urusan pekerjaan rumah-tangga yang sepele, tetapi di dalamnya ada kecakapan mengelola diri, mengatur waktu dan lebih penting lagi adalah empati.

Apakah tidak boleh kita menggembirakan mereka dengan sajian istimewa saat mereka pulang dari pesantren? Boleh. Sangat boleh. Tetapi hendaklah kita tidak merampas kesempatan mereka untuk belajar mengenal pekerjaan rumah-tangga, menghidupkan empati dan mengasah kepekaannya membantu orangtua. Liburan adalah saat tepat belajar kehidupan. Bukan saat untuk libur menjadi orang baik sehingga seluruh kebaikan yang telah biasa mereka jalani di sekolah, sirna saat liburan tiba. Mereka seperti raja untuk sementara, sebelum kembali ke penjara suci.

Diam-diam saya teringat, konon di sebuah sekolah bernama Eton College, semacam Muallimin di Inggris tempat anaknya raja maupun anak orang sangat kaya bersekolah, para siswa diharuskan mencuci dan menyeterika bajunya sendiri. Bukan bayar laundry. Ini bukan karena orangtua mereka fakir miskin. Bukan. Tetapi karena dalam urusan sederhana itu ada kebaikan yang sangat besar bagi kehidupan mereka di masa yang akan datang, termasuk dalam hal kepemimpinan. Mereka menjadi lebih peka tentang apa yang seharusnya dilakukan saat menjadi pemimpin perusahaan, termasuk dalam mengelola waktu.

Apa yang dilakukan di Eton College sebenarnya bukan barang baru, tetapi saya merasa perlu menghadirkan kisah ini selintas hanya untuk menggambarkan betapa anak-anak memerlukan latihan untuk mengasah kepekaannya, menghidupkan empatinya dan meringankan langkahnya membantu orangtua. Mereka sangat perlu memiliki semua itu karena dua alasan. Pertama, ketiganya (kepekaan, empati dan kemauan untuk meringankan langkah) sangat mereka perlukan dalam menjalani kehidupan bersama orang lain, baik ketika berumah-tangga maupun berdakwah dan mengurusi ummat. Artinya, minimal semua itu mereka perlukan untuk meraih kehidupan rumah-tangga yang baik, tidak terkecuali dalam mendidik anak. Kedua, ketiganya mereka perlukan untuk dapat berbuat kebajikan bagi kedua orangtua (birrul walidain) dengan sebaik-baiknya. Dan birrul walidain merupakan salah satu kunci kebaikan yang dengan itu anak dapat berharap meraih ridha dan surga-Nya Allah ‘Azza wa Jalla.

Jadi, urusan terpentingnya bukan karena kita kewalahan lalu perlu bantuan mereka. Bukan. Bukan pula karena kita repot sehingga memerlukan kesediaan mereka untuk meringankan tugas-tugas kita. Tetapi hal terpenting dari melibatkan anak membantu pekerjaan di rumah dan tanggap terhadap orangtua justru untuk keselamatan dan kebaikan anak kita di masa-masa yang akan datang. Kejamlah orangtua yang tak melatih anaknya untuk berbakti kepadanya hanya karena merasa orangtua tak perlu menuntut anak membantunya. Ingatlah, kita latih, dorong dan suruh mereka agar cepat tanggap dan ringan membantu bukanlah terutama untuk meringankan beban orangtua, tetapi justru agar anak-anak kita memperoleh kemuliaan dan kebaikan di sisi Allah ‘Azza wa Jalla dengan birrul walidain. Sekurang-kurangnya tidak menyebabkan mereka terjatuh pada perbuatan mendurhakai orangtua. Dan ini merupakan serendah-rendah ukuran.

Ada yang perlu kita khawatiri jika lalai menyiapkan mereka. Pertama, anak-anak merasa berbuat kebajikan kepada kedua orangtua, termasuk membantu pekerjaan di rumah, bukan sebagai tugasnya. Mereka tak membangkang, tetapi lalai terhadap apa yang sepatutnya mereka kerjakan. Ini merupakan akibat paling ringan. Kedua, anak-anak tumbuh menjadi pribadi yang durhaka kepada orangtua. Dan karena kedurhakaan itu bersebab kelalaian orangtua dalam mendidik, maka di Yaumil Qiyamah mereka menjatuhkan orangtua di mahkamah Allah ‘Azza wa Jalla sehingga justru orang yang merasakan azab akhirat. Ketiga, sebagaimana disebut dalam hadis di atas, anak-anak berkembang menjadi pribadi yang memperbudak orangtua, bahkan setelah mereka mempunyai anak. Na’udzubiLlahi min dzaalik.

Ada yang perlu kita renungkan tentang bagaimana kita mendidik anak-anak kita. Saatnya kita kembali kepada tuntunan agama ini, bertaqwa kepada-Nya dalam urusan mendidik anak dan berusaha menggali tentang apa saja yang harus kita bekalkan kepada mereka.
 
@Copas by zhia

Program Kerja Kepala Madrasah Ibtidaiyah Washliyatul Jannah Tahun Pelajaran 2025/2026 telah resmi disahkan!

Dokumen ini merupakan panduan kerja   Kepala Madrasah , Khairiansyah, S.Pd.I., M.Pd, dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya untuk me...