22 Januari 2021

Anak-anak yang mati rasa


Kelak akan tiba masanya, seperti yang dikabarkan oleh Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam, orangtua berpayah-payah mendidik anak, tetapi anaknya memperlakukan emaknya seperti tuan memperlakukan budaknya. Dan aku takut peristiwa itu akan terjadi di masa ini, masa ketika anak-anak tak mengenal pekerjaan rumah-tangga, dan pesantren maupun sekolah-sekolah berasrama lainnya tak lagi menjadi tempat bagi anak untuk belajar tentang kehidupan. 

Anak-anak itu belajar, tetapi hanya mengisi otaknya dari pengetahuan yang dapat diperoleh dari text book dan google. Sementara tangannya bersih tak pernah mencuci maupun melakukan pekerjaan-pekerjaan fisik lainnya, sehingga empati itu mati sebelum berkembang. Tak tergerak hatinya bahkan di saat melihat emaknya kesulitan bernafas seumpama orang hampir mati disebabkan ketuaan atau sakitnya kambuh, tetapi anak tak bergeming membantunya. Apalagi berupaya melakukan yang lebih dari itu.

Aku termangu mengingat nasehat Rasulullah Muhammad shallaLlahu ‘alaihi wa sallam mengenai tanda-tanda hari kiamat, salah satunya dari hadis panjang yang kali ini kita nukil ringkasnya:
.
سَأُخْبِرُكَ عَنْ أَشْرَاطِهَا: إِذَا وَلَدَتِ الْمَرْأَةُ رَبَّتَهَا
.
_Aku akan memberitahukan kepadamu tanda-tandanya; jika seorang (sahaya) wanita melahirkan tuannya.” (Muttafaqun ‘Alaih)_
.
.
Ibunya bukanlah seorang budak. Bukan. Ibunya orang merdeka. Tetapi anak-anak itu tak tersentuh hatinya untuk cepat tanggap membantu ibunya. Padahal membantu saat diminta adalah takaran minimal bakti kepada orangtua. Takaran di atas itu, tanpa diminta pun ia sudah tergerak membantu. Dan di atasnya lagi masih bertingkat-tingkat kebaikan maupun kepekaan seorang anak tentang kebaikan apa yang sepatutnya ia perbuat terhadap kedua orangtuanya.

Ada yang perlu kita renungi. Ada airmata yang perlu mengalir, menadahkan tangan mendo’akan anak-anak dan keturunan kita, menangisi dosa-dosa, berusaha memperbaiki diri dan tetap tidak meninggalkan nasehat bagi anak kita karena ini adalah haknya. Nasehat. Ia adalah kewajiban kita untuk memberikannya meskipun mereka tak memintanya. Kitalah yang harus tahu kapan saat tepat memberikan nasehat sebab semakin memerlukan nasehat, justru kerapkali semakin merasa tak memerlukan nasehat.

Hari ini, betapa banyak anak yang di sekolah berasrama tak diajari mengurusi kehidupan pribadinya karena makanan siap saji setiap waktu makan, hanya perlu berbaris untuk mengambilnya. Sedangkan pakaian pun tak perlu ia menyempatkan waktu mengatur jadwal agar bersih saat mau digunakan, karena sudah ada laundry, sementara tugas sekolah tetap tertunaikan. Tidak terbengkalai. Maka di saat mereka pulang, kita perlu melatih tangan dan juga hatinya agar tanggap. Bukan menyerahkan begitu saja kepada pembantu. Tampaknya ini hanya urusan pekerjaan rumah-tangga yang sepele, tetapi di dalamnya ada kecakapan mengelola diri, mengatur waktu dan lebih penting lagi adalah empati.

Apakah tidak boleh kita menggembirakan mereka dengan sajian istimewa saat mereka pulang dari pesantren? Boleh. Sangat boleh. Tetapi hendaklah kita tidak merampas kesempatan mereka untuk belajar mengenal pekerjaan rumah-tangga, menghidupkan empati dan mengasah kepekaannya membantu orangtua. Liburan adalah saat tepat belajar kehidupan. Bukan saat untuk libur menjadi orang baik sehingga seluruh kebaikan yang telah biasa mereka jalani di sekolah, sirna saat liburan tiba. Mereka seperti raja untuk sementara, sebelum kembali ke penjara suci.

Diam-diam saya teringat, konon di sebuah sekolah bernama Eton College, semacam Muallimin di Inggris tempat anaknya raja maupun anak orang sangat kaya bersekolah, para siswa diharuskan mencuci dan menyeterika bajunya sendiri. Bukan bayar laundry. Ini bukan karena orangtua mereka fakir miskin. Bukan. Tetapi karena dalam urusan sederhana itu ada kebaikan yang sangat besar bagi kehidupan mereka di masa yang akan datang, termasuk dalam hal kepemimpinan. Mereka menjadi lebih peka tentang apa yang seharusnya dilakukan saat menjadi pemimpin perusahaan, termasuk dalam mengelola waktu.

Apa yang dilakukan di Eton College sebenarnya bukan barang baru, tetapi saya merasa perlu menghadirkan kisah ini selintas hanya untuk menggambarkan betapa anak-anak memerlukan latihan untuk mengasah kepekaannya, menghidupkan empatinya dan meringankan langkahnya membantu orangtua. Mereka sangat perlu memiliki semua itu karena dua alasan. Pertama, ketiganya (kepekaan, empati dan kemauan untuk meringankan langkah) sangat mereka perlukan dalam menjalani kehidupan bersama orang lain, baik ketika berumah-tangga maupun berdakwah dan mengurusi ummat. Artinya, minimal semua itu mereka perlukan untuk meraih kehidupan rumah-tangga yang baik, tidak terkecuali dalam mendidik anak. Kedua, ketiganya mereka perlukan untuk dapat berbuat kebajikan bagi kedua orangtua (birrul walidain) dengan sebaik-baiknya. Dan birrul walidain merupakan salah satu kunci kebaikan yang dengan itu anak dapat berharap meraih ridha dan surga-Nya Allah ‘Azza wa Jalla.

Jadi, urusan terpentingnya bukan karena kita kewalahan lalu perlu bantuan mereka. Bukan. Bukan pula karena kita repot sehingga memerlukan kesediaan mereka untuk meringankan tugas-tugas kita. Tetapi hal terpenting dari melibatkan anak membantu pekerjaan di rumah dan tanggap terhadap orangtua justru untuk keselamatan dan kebaikan anak kita di masa-masa yang akan datang. Kejamlah orangtua yang tak melatih anaknya untuk berbakti kepadanya hanya karena merasa orangtua tak perlu menuntut anak membantunya. Ingatlah, kita latih, dorong dan suruh mereka agar cepat tanggap dan ringan membantu bukanlah terutama untuk meringankan beban orangtua, tetapi justru agar anak-anak kita memperoleh kemuliaan dan kebaikan di sisi Allah ‘Azza wa Jalla dengan birrul walidain. Sekurang-kurangnya tidak menyebabkan mereka terjatuh pada perbuatan mendurhakai orangtua. Dan ini merupakan serendah-rendah ukuran.

Ada yang perlu kita khawatiri jika lalai menyiapkan mereka. Pertama, anak-anak merasa berbuat kebajikan kepada kedua orangtua, termasuk membantu pekerjaan di rumah, bukan sebagai tugasnya. Mereka tak membangkang, tetapi lalai terhadap apa yang sepatutnya mereka kerjakan. Ini merupakan akibat paling ringan. Kedua, anak-anak tumbuh menjadi pribadi yang durhaka kepada orangtua. Dan karena kedurhakaan itu bersebab kelalaian orangtua dalam mendidik, maka di Yaumil Qiyamah mereka menjatuhkan orangtua di mahkamah Allah ‘Azza wa Jalla sehingga justru orang yang merasakan azab akhirat. Ketiga, sebagaimana disebut dalam hadis di atas, anak-anak berkembang menjadi pribadi yang memperbudak orangtua, bahkan setelah mereka mempunyai anak. Na’udzubiLlahi min dzaalik.

Ada yang perlu kita renungkan tentang bagaimana kita mendidik anak-anak kita. Saatnya kita kembali kepada tuntunan agama ini, bertaqwa kepada-Nya dalam urusan mendidik anak dan berusaha menggali tentang apa saja yang harus kita bekalkan kepada mereka.
 
@Copas by zhia

20 Januari 2021

Pengaturan awal dengan warna yang baru


Banua Hanyar

Pandemi COVID-19 mengubah cara kita berkegiatan sehari-hari, termasuk anak-anak yang saat ini harus berdiam di rumah saja. Jangan sampai hal ini mengganggu masa depan mereka.

Mari pastikan anak-anak bisa tumbuh di dunia yang aman, tempatkan mereka belajar dan bermain di madrasah karena belajar dan bermain adalah hak setiap anak, madrasah menempa mereka dari segi pendidikan karakter akhlak dan ilmu pengetahuan yang merujuk kepada sains dunia.
MI Washliyatul Jannah membantu anak-anak mencapai potensi terbaik mereka.
Dengan tetap belajar disaat masa pandemi.


11 Januari 2021

Duduk bersama bapak pengawas H.Bustami, MM di MI Washliyatul Jannah


Banua Hanyar_ MI Washliyatul Jannah. 

Pembinaan dan pengawasan dari bapa H.Bustami, MM. Kepada guru-guru, TU dan Kepala Madrasah. 

Ada beberapa point penting yang disampaikan beliau. Terkait pembelajaran di masa pandemi baik itu daring maupun Luring.

Dan juga disinggung tentang PKKM yang akan dilaksanakan mulai akhir bulan ini agar madrasah siap, karna keberhasilan kepala madrasah sangat erat kaitannya dari kerja semua unsur masyarakat madrasah seperti guru,Tu maupun komite dan unsur lainnya. 

Semoga madrasah yang berada di Kabupaten Hulu Sungai Selatan Lebih Hebat kedepannya. Aamiin.

20 November 2020

Kemenag Kab.HSS Gelar Asesmen Kompetensi Guru dan Pengawas Madrasah


Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Hulu Sungai Selatqn  menggelar asesmen kompetensi bagi guru, kepala, dan pengawas madrasah. Hari ini Uji kompetensi digelar di MAN 3 HSS sebagai tempat pelaksanaan.

MI Waja mengikutkan 5 Orang pendidik dan 1 Kepala Madrasah. Pelaksaan kali ini di monitor langsung oleh bapak Kepala Kantor Kemenag Kab HSS.

Ibu Nor Azizah, S.Pd.I mengikuti kegiatan ini sampai selesai mengakui begitu sulit soal yang di layagkan. Mengingat tidak menguasai IT juga kendala Utama. Namun beliau tetap mau ikut berpartisipasi agar bisa mengharumkan lembaga beliau.

02 November 2020

Umpat KSMO beragam kendala Waja

Umpat KSMO ternyata banyak masalahnya. Pertama madrasaha harus mempunyai alat teknologi yang mendukung. 

Waja tetap optimis bisa mengijutinya nanti pada tanggal 9 November 2020. Kegigihan opertor sangat mendukung keberhasilan jalannya kegiatan ini. 
dibalik kegigihan siswa ternyata banyak perjuangan operator. Pa jaelani dari MI Waja sangat antusias menjalankan dan mengoperasikan laptop. Padahan cuma celeron bukan core i5 bahkan lebih. Kami yakin bisa.
Yasin dan duan begitu sapa mereka diseharian waja. Umpat jua kaya orang. Yang penting kawa memanfaatkan teknologi dan mengikutinya.

Mohon doa nya barataan. Mudahan anak kami kawa kaya orang jua. Aamiin

29 Oktober 2020

Guruku Kawin



Selamat menempuh hidup baru. Pa Rijali sapaan sehari hari anak mi waja. Kemaren beliau sudah pernah kawin, cuma yang namanya jodoh ya sampai disitu akhirnya.

Hari ini di bajayau beliau mempersuting kembang desa bajayau. Semoga samawa sampai akhirnya. Aamiin.

Perjalanan yang sangat melelahkan menuju buncu hulu sungai selatan akhirnya terbayar sudah, sesampainya disana akhirnya ketemu ibu Rusmini sang pendamping hidup bapa Rijali.




23 Oktober 2020

Bimtek sebagai update ilmu



Banua Hanyar_Beberapa bulan ini sangat gencar webinar daring yang dilaksanakan pemerentah guna memperbarui ilmu pengetahuan pedagogik seorang pendidik.

Bimtek Implementasi Pembelajaran Berdasarkan Kurikulum (KMA 183 DAN 184)

Implementasi pada pendidik yang dengan sabar mengikuti pelatihan akan dirasakan pada saat menerapkan pembelajaran di era revolusi Industri 4.0. karena semua berbasis digital dan kita pun wajib mengikutinya, jika tidak maka kita akan disebut dengan orang yang terbelakang.

Dengan kemajuan zaman yang sangat cepat maka perlu keseimbangan pengetahuan yang masuk dan pengetahuan yang akan diterapkan, sehingga setiap lompatan update ilmu akan kita sambut dengan keluwesan dan menerima dengan full.

Semoga Pendidik dan Tenaga Kependidikan MI Waja mampu menyeimbangi kemajuan zaman dengan terus mengupdate ilmu namun tidak lepas dari relevansi religi.

Program Kerja Kepala Madrasah Ibtidaiyah Washliyatul Jannah Tahun Pelajaran 2025/2026 telah resmi disahkan!

Dokumen ini merupakan panduan kerja   Kepala Madrasah , Khairiansyah, S.Pd.I., M.Pd, dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya untuk me...